Brignas-RI.com
Jakarta,Minggu (03/050/2026) — Fenomena cuaca panas pada pagi hingga siang hari yang kemudian berubah menjadi hujan pada sore atau malam hari belakangan ini banyak dirasakan masyarakat di berbagai daerah. (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut merupakan karakteristik umum saat masa peralihan musim atau pancaroba.
Menurut BMKG, pada pagi hingga siang hari intensitas penyinaran matahari cenderung tinggi dengan tutupan awan yang relatif minim. Kondisi ini menyebabkan suhu udara meningkat cukup signifikan dan menimbulkan rasa gerah di permukaan.
Memasuki siang hingga sore hari, pemanasan tersebut memicu proses konveksi, yakni naiknya massa udara panas ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Saat bertemu dengan udara yang lebih dingin, terbentuk awan hujan berjenis cumulonimbus yang berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam waktu relatif singkat.
BMKG menilai pola ini lazim terjadi pada masa pancaroba, ketika atmosfer berada dalam kondisi labil sehingga perubahan cuaca berlangsung cepat. Hujan yang turun umumnya bersifat lokal dan tidak merata, namun dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang.
Seiring dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya pada sore hingga malam hari. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya mempertimbangkan perkembangan cuaca terkini guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Fenomena ini diperkirakan masih akan terjadi selama periode transisi musim berlangsung di sebagian wilayah Indonesia.
Red.
