| foto:ilustrasi perundungan |
MANADO – Gelombang desakan terhadap manajemen SMP Advent 1 Tikala semakin menguat. Aktivis kemanusiaan, Briand Holle, secara tegas mempertajam kritiknya terhadap Kepala Sekolah, Ellen Gladies Kambey, dan para wali kelas terkait insiden kekerasan brutal yang menimpa siswi BKST (13).
Sorotan Tajam Terhadap Kepemimpinan Sekolah
Briand Holle menilai, klarifikasi yang sejauh ini muncul dari pihak sekolah masih bersifat normatif dan belum menyentuh substansi tanggung jawab moral maupun hukum. Menurutnya, kepala sekolah tidak boleh hanya berlindung di balik status lembaga pendidikan saat terjadi tindakan kriminal di dalam lingkungannya.
"Kami tidak butuh retorika. Yang publik butuhkan adalah pengakuan bahwa ada kelalaian fatal dalam pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah dan wali kelas. Bagaimana mungkin kekerasan sedemikian brutal bisa terjadi tanpa ada pencegahan di tempat kejadian?" tegas Briand.
Wali Kelas Diminta Bertanggung Jawab
Selain kepala sekolah, Briand juga menyoroti peran wali kelas yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memantau perilaku siswa. Ia menegaskan bahwa fungsi wali kelas bukan sekadar urusan administrasi nilai, melainkan juga menjamin keamanan psikologis dan fisik anak didik.
"Wali kelas tidak boleh lepas tangan. Mereka harus menjelaskan secara transparan posisi mereka saat kejadian berlangsung. Jika guru-guru di sana tidak mampu mendeteksi potensi konflik sejak dini, maka sistem internal sekolah ini perlu dipertanyakan secara total," tambahnya.
Peringatan Terhadap Upaya "Main Aman"
Dalam pernyataannya, Briand Holle memberikan peringatan keras agar pihak sekolah tidak mencoba melakukan upaya intimidasi atau negosiasi di bawah tangan yang merugikan pihak korban. Ia memastikan akan terus mengawal laporan polisi bernomor STTLP/B/812/IV/2026/SPKT/POLRESTA MANADO hingga ada tindakan konkret bagi pelaku maupun sanksi bagi oknum sekolah yang lalai.
"Kami mendukung penuh proses hukum di Polresta Manado. Pihak sekolah, termasuk Ibu Ellen selaku kepala sekolah, harus koperatif dan memberikan data yang jujur tanpa ada poin yang sengaja disembunyikan dalam adeline konfirmasi mereka," pungkas Briand.
Masyarakat Menanti Sanksi Tegas
Kasus ini kini menjadi barometer bagi keamanan pendidikan di Kota Manado. Masyarakat menanti apakah manajemen SMP Advent 1 Tikala akan melakukan pembenahan internal yang jujur atau tetap bersikap defensif di tengah sorotan publik yang kian tajam.