MANADO – Gelombang protes terhadap media nasional kembali pecah. Ratusan kader dan simpatisan Partai NasDem Sulawesi Utara memadati NasDem Tower Sulut pada Rabu (15/04/2026) dalam sebuah aksi damai yang menyedot perhatian publik nasional.
Aksi ini merupakan respons keras atas laporan utama Majalah Tempo edisi 12–19 April 2026 yang dinilai menyudutkan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Massa yang berkumpul di lantai 5 gedung tersebut membawa berbagai poster berisi tuntutan agar pers tetap menjaga etika dan objektivitas.
Ketua DPW NasDem Sulut, Victor Mailangkay, menegaskan bahwa gerakan ini adalah bentuk spontanitas dari akar rumput yang merasa harga diri partai terusik.
"Materi yang disampaikan (Tempo) tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan. Kami menghargai pers yang bebas, tapi harus bertanggung jawab dengan mengedepankan etika!" tegas Victor di tengah kerumunan massa.
7 Tuntutan Tegas NasDem Sulut
Dalam suasana yang heroik namun tertib, Waket DPW NasDem Sulut, Denny Rompas, membacakan maklumat yang berisi tujuh poin pernyataan sikap. Beberapa poin krusial di antaranya:
1. Menegaskan komitmen terhadap supremasi hukum sebagai dasar negara hukum yang menjunjung keadilan dan kepastian hukum.
2. Menghormati kebebasan pers sebagai pilar demokrasi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
3. Menyayangkan pemberitaan Tempo yang dinilai tidak proporsional dan berpotensi merendahkan martabat Ketua Umum Partai NasDem.
4. Mendesak permintaan maaf terbuka dari Majalah Tempo kepada Ketua Umum Partai NasDem dan seluruh kader di Indonesia.
5. Meminta klarifikasi dan pelurusan berita berdasarkan prinsip keberimbangan, akurasi, dan profesionalisme jurnalistik.
6. Mendorong Dewan Pers melakukan penilaian etik guna menjaga integritas dunia pers nasional.
7. Meminta DPP Partai NasDem melayangkan somasi resmi kepada Majalah Tempo sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Meskipun massa memadati ruangan, aksi tetap berlangsung kondusif dengan pengawalan ketat internal partai. Hingga berita ini diturunkan, tagar terkait mulai membanjiri lini masa Twitter (X) dan TikTok, mempertanyakan bagaimana independensi media di tahun politik 2026.
Red. BJH